Total Pageviews

Monday, June 20, 2011

CONTOH MAKALAH

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT yang selalu member rahmat dan hidayahnya ,sehingga penulis dapat menyusun dan menyelesaikan tugas ini dengan sempurna.

Pemecahan masalah dalam tugas ini,di kerjakan dalam diskusi kelompok oleh kelompok III,dan dalam menyusun laporan ini,penulis yakin masih banyak terdapat kekurangan oleh karna itu penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran yang dapat membangun sehingga hasil laporan ini dapat lebih sempurna dan lebih baik lagi.


Kemudian penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada Dosen pembimbing serta semua pihak yang telah membantu dalam pelaksanaan pembuatan laporan ini,semoga laporan ini dapat bermanfaat demi kemajuan dan kepentingan dalam dunia pendidikan.

………………,19 juni 2011
Penulis

Kelompok III

DAFTAR ISI

Kata pengantar……………………………………………………………………...(1)
Daftar isi……………………………………………………………………..……..(2)

Bab I
*Pendahuluan………………………………………………..……………………..(3)
*Latar belakang…………………………………………………………………….(3)

Bab II
Pengertian belajar menurut teori knstruktivistik……………………………...….(4)
Teori belajar menurut Piaget…………………………………………………......(5)
Teori belajar menurut Suparno…………………………………………………...(5)
Teori belajar menurut Semiawan……………………………………………...….(5)
Teori belajar menurut Vygotsky……………………………………………….…(6)

Bab III
Kesimpulan………………………………………………………….…………...(8)

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

Paradigma dunia pendidikan menginginkan setiap peserta didik atau anak didiknya berhasil dalam setiap proses belajar mengajar dikelasnya. Namun untuk mencapai hal itu bukan merupakan hal yang sangat mudah dan gampang, apalagi pada era Globalisasi seperti sekarang ini. Untuk mencapai keberhasilan itu diperlukan kerja keras seorang tenaga pendidik, terutama guru. Sebagai seorang guru dituntut memiliki kemampuan yang profesional, baik berupa pendidikan yang bersifat keguruan maupun non keguruan, karena dengan kemampuan itulah keberhasilan dalam pembelajaran itu akan dapat tercapai.

Proses pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang membantu siswa dalam belajar yang ditandai dengan adanya perubahan pada tingkah laku baik berupa aspek Kognitif, Afektif maupun Psikomotorik. Menilai Keberhasilan dalam belajar mempunyai tujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan siswa dalam memahami setiap materi yang telah disampaikan atau dipelajari.

PEMBAHASAN
1.PENGERTIAN BELAJAR MENURUT TEORI KONSTRUKTIVISTIK
Hakikat pembelajaran Konstruktivistik
Pembentukan pengetahuan menurut konstruktivistik memandang subyek aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui proses rekonstruksi.
Yang terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses pembelajaran, si belajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang lain. Mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar siswa secara aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa.

Belajar lebih diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan adaptasi kemanusiaan berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan teman sekelas, yang kemudian dikontemplasikan dan dijadikan ide dan pengembangan konsep baru. Karenanya aksentuasi dari mendidik dan mengajar tidak terfokus pada si pendidik melainkan pada pebelajar.

Beberapa hal yang mendapat perhatian pembelajaran konstruktivistik, yaitu: (1) mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam kontek yang relevan, (2) mengutamakan proses, (3) menanamkan pembelajran dalam konteks pengalaman social, (4) pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman (Pranata,.)ertian belajar menurut teori konstruktivistik
2.TEORI BELAJAR MENURUT PIAGET
Pembentukan pengetahuan menurut model konstruktivisme memandang subyek aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui proses rekonstruksi .

3.TEORI BELAJAR MENURUT SUPARNO
Yang terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses pembelajaran siswalah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukannya guru atau orang lain. Mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar siswa secara aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan k
4.TEORI BELAJAR MENURUT SEMIAWAN
Belajar lebih diarahkan pada experiental learning yaitu merupakan adaptasi kemanusiaan berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan teman sejawat, yang kemudian dikontemplasikan dan dijadikan ide dan pengembangan konsep baru. Karenanya aksentuasi dari mendidik dan mengajar tidak terfokus pada si pendidik melainkan pada pebelajar. Belajar seperti ini selain berkenaan dengan hasilnya (outcome) juga memperhatikan prosesnya dalam konteks tertentu. Pengetahuan yang ditransformasikan diciptakan dan dirumuskan kembali (created and recreated), bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Bentuknya bisa objektif maupun subjektif, berorientasi pada penggunaan fungsi konvergen dan divergen otak manusia eaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa.
5.TEORI BELAJAR MENURUT VYGOTSKY
Vygotsky mengemukakan tiga kategori pencapaian siswa dalam upayanya memecahkan permasalahan, yaitu (1) siswa mencapai keberhasilan dengan baik, (2) siswa mencapai keberhasilan dengan bantuan, (3) siswa gagal meraih keberhasilan. Scaffolding, berarti upaya pembelajar untuk membimbing siswa dalam upayanya mencapai keberhasilan. Dorongan guru sangat dibutuhkan agar pencapaian siswa ke jenjang yang lebih tinggi menjadi optimum.

Konstruktivisme Vygotskian memandang bahwa pengetahuan dikonstruksi secara kolaboratif antar individual dan keadaan tersebut dapat disesuaikan oleh setiap individu. Proses dalam kognisi diarahkan memalui adaptasi intelektual dalam konteks social budaya. Proses penyesuaian itu equivalent dengan pengkonstruksian pengetahuan secara intra individual yakni melalui proses regulasi diri internal. Dalam hubungan ini, para konstruktivis Vygotskian lebih menekankan pada penerapan teknik saling tukar gagasan antar individual.

Dua prinsip penting yang diturunkan dari teori Vygotsky adalah: (1), mengenai fungsi dan pentingnya bahasa dalam komunikasi social yang dimulai proses pencanderaan terhadap tanda (sign) sampai kepada tukar menukar informasi dan pengetahuan, (2) zona of proximal development. Pembelajar sebagai mediator memiliki peran mendorong dan menjembatani siswa dalam upayanya membangun pengetahuan, pengertian dan kompetensi.

Sumbangan penting teori Vygotsky adalah penekanan pada hakikat pembelajaran sosiakultural. Inti teori Vygotsky adalah menekankan interaksi antara aspek internal dan eksternal dari pembelajaran dan penekanannya pada lingkungan social pembelajaran. Menurut teori Vygotsky, funsi kognitif manusia berasal dari interaksi social masing-masing individu dalam konteks budaya. Vygotsky juga yakin bahwa pembelajaran terjadi saat siswa bekerja menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas tersebut masih dalam jangkauan kemampuannya atau tugas-tugas itu berada dalam zona of proximal development mereka. Zona of proximal development adalah daerah antar tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan memecahkan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu.

Pengetahuan dan pengertian dikonstruksi bila seseorang terlibat secara social dalam dialog dan aktif dalam percobaan-percobaan dan pengalaman. Pembentukan makna adalah dialog antar pribadi.dalam hal ini pebelajar tidak hanya memerlukan akses pengalaman fisik tetapi juga interaksi dengan pengalaman yang dimiliki oleh individu lain. Pembelajaran yang sifatnya kooperatif (cooperative learning) ini muncul ketika siswa bekerja sama untuk mencapai tujuan belajar yang diinginka oleh siswa. Pengelolaan kelas menurut cooperative learning bertujuan membantu siswa untuk mengembangkan niat dan kiat bekerja sama dan berinteraksi dengna siswa yang lain. Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas yaitu: pengelompokan, semangar kooperatif dan penataan kelas.





KESIMPULAN

Pengetahuan dan pengertian dikonstruksi bila seseorang terlibat secara social dalam dialog
dan aktif dalam percobaan-percobaan dan pengalaman. Pembentukan makna adalah dialog antar pribadi.dalam hal ini pebelajar tidak hanya memerlukan akses pengalaman fisik tetapi juga interaksi dengan pengalaman yang dimiliki oleh individu lain. Pembelajaran yang sifatnya kooperatif (cooperative learning) ini muncul ketika siswa bekerja sama untuk mencapai tujuan belajar yang diinginka oleh siswa. Pengelolaan kelas menurut cooperative learning bertujuan membantu siswa untuk mengembangkan niat dan kiat bekerja sama dan berinteraksi dengna siswa yang lain. Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas yaitu: pengelompokan, semangar kooperatif dan penataan kelas.
Post a Comment