Total Pageviews

Wednesday, April 27, 2011

Makalah ULUMUL QUR’AN ” QIRO’AT DAN MUNASABAH DALAM ULUMUL QUR’AN “

ILMU QIRO’AT DAN MUNASABAH DALAM ULULMUL QUR’AN
TUGAS MAKALAH DI AJUKAN SEBAGAI TUGAS MATA KULIAH ULUMUL QUR’AN

DOSEN PEMBIMBING :
DI SUSUN OLEH :


copy 4ja
INSTITUT AGAMA ISLAM...........
2011
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI…………………………………………………………………. i
KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………………  ii
BAB I
PENDAHULUAN ……………………………………………………………  1
BAB II
POKOK BAHASAN …………………………………………………………………………………..  2
1. QIRO’AH AL QUR’AN …………………………………………………….  2
A. Pengertian ……………………………………………………………………  2
B. Macam – macam Qiro’ah …………………………………………………….  3
C. Faedah Qiro’ah shohih ………………………………………………………..  3
2. MUNASABAH AL QUR’AN ……………………………………
A. Pengertian ……………………………………………………………………  4
B. Dasar pemikiran ………………………………………………………………  5
C. Relevansi Munasabah dengan tafsir …………………………………………  5
BAB III
KES................…………………………………………………………………..  7
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………….  8
KATA PENGANTAR
Bismillahirohmanirrakhim

 Puji syukur hanya bagi alloh yang telah menganugerahkan sedikit ilmu-Nya kepada manusia.
Sholawat serta salam semoga terlimpahkan kepada junjungan kita nabi besar, Muhammad saw yang membawa sedikit ilmu Alloh dan memberi contoh bagaimana mengamalkan ilmu itu.
Dewasa ini sudah jarang orang mempelajari Al Qur’an beserta ilmunya. Banyak yang hanya mengkoleksi kitab,mp 3 dan lain sebagainya nya akan tetapi jarang yang ingin mempelajari Al Qur’an beserta ilmu – ilmunya. Banyak yang menganggap,bahwa Al Qur’an hanya sesuatu hal yang biasa, padahal bila di teliti banyak para ilmuwan islam maupun barat menemukan suatu penemuan dari hasil mempelajari AL Qur’an dalam hal ilmu pengetahuan dan tecnologi, di samping karena ke jeniusan yang di miliki oleh individu ilmuwan – ilmuwan tersebut.
Di lihat dari itu semua, IAI Tribakti kediri memasukkan salah satu kajian ilmu Ulmul Al Qur’an dalam  proses belajar mengajar di Fakultas Dakwah.
Dalam hal ini kami mengangkat tema judul makalah “ ILMU QIRO’AT DAN MUNASABAH DALAM AL QUR’AN “ yang berisi ilmu cara melafalkan Al Qur’an dan ilmu mempelajari rahasia keserasian kalimah demi kalimah dalam Al Qur’an.
Semoga tugas makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi semua pembaca pada umumnya. Kritik yang membangun sangat penulis harapkan karena makalah ini jauh dari kata sempurna. Hanya Alloh jua-lah yang maha sempurna.
Sukron katsiron
Walhamdulillahirobbil a’lamin
…………, 20 April 2011
                                                                                                                                                                                                                                                                                             ( Penulis )
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Al-qur’an adalah kalammullah yang diturunkan kepada nabi muhammad lewat perantara malaikat Jibril sebagai mu’jizat. Al-Qur’an adalah sumber ilmu bagi kaum muslimin yang merupakan dasar-dasar hukum yang mencakup segala hal, baik aqidah, ibadah, etika, mu’amalah dan sebagainya. Selain sebagai sumber ilmu,Al Qur’an juga mempunyai ilmu dalam membacanya.
Dalam surat Al Isro’,Alloh swt telah berfirman :
               إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يِهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
Artinya : “Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. Al Isra : 9)
Juga telah di sebutkan dalam sebuah hadits ,Sabda Rasulullah saw,“Orang yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan setara dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf akan tetapi alih satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)
Begitu besar keagungan Al Qur’an  sampai – sampai dalam membacanyapun harus di sertai ilmu membaca yang di sebut ilmu qiro’at,karena di kawatirkan apabila dalam membaca Al Qur’an tidak di sertai ilmunya akan berakibat berubahnya arti,maksud serta tujuan dalam setiap firman yang tertulis dalam Al Qur’an.
Selain ilmu qiro’at,Al Qur’an juga suatu rangkain kalimat yang serasi satu dengan yang lainnya.keserasian kalimat antar kalimat,ayat antar ayat sampai kepada surat antar surat membuat Al Qur’an di juluki suatu rangkain syair yang begitu indah mustahil untuk di serupai.dalam rangkaian UlumulQur’an,keserasian dalam Al Qur’an di sebut Munasabah Al Qur’an.

BAB II
POKOK BAHASAN

1. QIRO’AH AL QUR’AN
A. Pengertian qiro’ah
Qiro’ah adalah ilmu yng mempelajari cara-cara mengucapkan kata-kata al-qur’an dan perbedaan-perbedaannya dengan cara menisbatkan kepada penukilnya.. Jadi dalam membaca Al qur’an kita akan menjumpai beberapa bacaan yang berbeda dalam membaca  al qur’an. Tiap – tiap qoro’ah ada imam nya masing-masing. Hal tersebut tidak mempengaruhi arti dalam al qur’an karena para imam – imam tersebut mengambil ilmu qiro’ah nya langsung dari beliau nabi Muhammad saw.telah di sebutkan dalam hadits nabi,antara lain :
1. “ Jibril membacakan (Al-Qur’an) kepadaku dengan satu huruf. Kemudian berulang kali aku meminta agar huruf itu ditambah, dan ia pun menambahnya kepadaku sampai dengan tujuh huruf “. [HR Bukhari – Muslim]
2 “ .Dari umar bin khathab, ia berkata, “aku mendengar hisyam bin hakim membaca surat al-furqon di masa hidup rasulullah. aku perhatikan bacaannya. tiba-tiba ia membaca dengan banyak huruf yang belum pernah dibacakan rasulullah kepadaku, sehingga hampir saja aku melabraknya di saat ia shalat, tetapi aku urungkan. maka, aku menunggunya sampai salam. begitu selesai, aku tarik pakaiannya dan aku katakan kepadanya, ‘siapakah yang mengajarkan bacaan surat itu kepadamu?’ ia menjawab, ‘rasulullah yang membacakannya kepadaku. lalu aku katakan kepadanya, ‘kamu dusta! demi Allah, rasulullah telah membacakan juga kepadaku surat yang sama, tetapi tidak seperti bacaanmu. kemudian aku bawa dia menghadap rasulullah, dan aku ceritaan kepadanya bahwa aku telah mendengar orang ini membaca surat al-furqon dengan huruf-huruf (bacaan) yang tidak pernah engkau bacakan kepadaku, padahal engkau sendiri telah membacakan surat al-furqon kepadaku. maka rasulullah berkata, ‘lepaskanlah dia, hai umar. bacalah surat tadi wahai hisyam!’ hisyam pun kemudian membacanya dengan bacaan seperti kudengar tadi. maka kata rasulullah, ‘begitulah surat itu diturunkan.’ ia berkata lagi, ‘bacalah, wahai umar!’ lalu aku membacanya dengan bacaan sebagaimana diajarkan rasulullah kepadaku. maka kata rasulullah, ‘begitulah surat itu diturunkan. Sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah dengan huruf yang mudah bagimu di antaranya.’” [HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Jarir]
Mengenai makna dari ‘tujuh huruf’ tersebut ada dua pendapat yang kuat. pertama adalah tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa arab mengenai satu makna: Quraisy, Hudzail, Saqif, Hawazin, Kinanah, Tamim, dan Yaman. kedua adalah tujuh macam perbedaan: Perbedaan isim, Perbedaan fi`il, Perbedaan i`rab, Perbedaan taqdim dan ta’khir, Perbedaan naqis dan ziyadah, Perbedaan ibdal, dan Perbedaan lahjah (tafkhim – tarqiq, fathah – imalah, izhar – idgham, hamzah – tashil, mad – qashr, isymam).
B. Macam – macam qiro’ah
1. Qiro’at Sab’ah ( Qiro’at tujuh ) adalah imam-imam qiro’at ada tujuh orang, yaitu:
a. ‘Abdullah bin Katsir Ad-Dari (w.120 H ) dari Mekkah.
b. Nafi’ bin ‘Abdurrahman bin Abu Na’im (w .169 H ).dari madinah
c. ‘Abdullah Al-yashibi (w.118 H ) dari Syam
d. Abu Amar (w.154 H ) dari Irak
e. Ya’kub (w.205 H ) dari Irak
f. Hamzah (w.188 )
g. ‘Ashim (w.127 H )
2. Qiro’ah Asyiroh adalah qiro’ah sab’ah ditambah dengan 3 imam yaitu: Abu Ja’far, Ya’kub bin Ishaq, kalaf bin hisyam
3. Qiro’ah Arba Asyiroh (qiro’ah empat belas) yaitu qiro’ah sepuluh ditambah dengan 4 imam yaitu Al-hasan al basri, muhammad bin abdul rohman,yahya bin mubarok,Abu fajr muhammad bin ahmad.
Dari segi kualitas qiro’ah dapat dibagi menjadi :
1. Qiro’ah Mutawwatir yaitu qiro’ah yang disampakan kelompok orang yang sanatnya tidak berbuat dusta
2. Qiro’ah Mashur yaitu qiro’ah yang memiliki sanad sahih dan mutawatir
3. Qiro’ah ahad yaitu memiliki sanad sahih tapi menyalahi tulisan mushaf usmani dan kaidah bahasa Arab
4. Qiro’ah Maudhu yaitu palsu
5. Qiroah Syadz Yaitu menyimpang
6. Qiro’ah yang menyerupai hadist mudroj (sisipan)
C. Faedah qiro’ah shohih
Orang – orang yang menguasai Al qur’an adalah mereka oaring – orang yang dapat di percaya dan imam demi imam sampai kepada nabi Muhammad SAW, oleh karenanya ketika Utsman RA menyampaikan mushaf keseluruh pelosok,beliau mengirimkan pula orang yang sesuai bacaannya dengan masing – masing mushaf yang di turunkan. Juga menjaga kemurnian Al qur’an sesuai dengan Rosullulloh SAW.
2. Munasabah Al Qur’an
A. Pengertian munasabah
1. Secara Etimologi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Munasabah berarti cocok, sesuai, tepat benar, kesesuaian, kesamaan.Adapun Menurut IMAM AL ZARKASYI kata munasabah menurut bahasa adalah mukorobah [mendekati], seperti dalam contoh kalimat : Fulan yunasibu fulan (fulan mendekati / menyerupai fulan). Kata nasib adalah kerabat dekat, seperti dua saudara saudara sepupu, dan semacamnya. Jika keduanya munasabah dalam pengertian saling terkait, maka dinamakan qarabah (kerabat).
2. Secara Terminologi
Munasabah merupakan satu disiplin ilmu yg membicarakan tentang pertautan antara ayat-ayat Al-Qur’an atau antara surah-surahnya berdasarkan penyusunan dalam mushaf. IMAM ZARKASYI sendiri memaknai munasabah sebagai ilmu yang mengaitkan pada bagian-bagian permulaan ayat dan akhirnya. Pendapat lain mengatakan bahwa munasabah merupakan sebuah ilmu yang digunakan untuk mengetahui alasan-alasan penertiban bagian-bagian dari al-Qur’an. Istilah lain yang digunakan ulama untuk munasabah sangat banyak, antara lain Irthibath, Ittishal, Ta’li,l Ta’alul, dan  Tartib. Istilah tersebut memiliki kesamaan  pengertian yaitu hubungan, relevansi dan kaitan.
Menurut Manna Al-qathan munasabah adalah sisi keterikatan antara beberapa ungkapan di dalam satu ayat,atau antar ayat pada beberapa ayat atau antar surat dalam al-qur’an. As-Suyuti menjelaskan langkah-langkah yang diperhatikan dalam menemukan munasabah yaitu:
a. Memperhatikan tujuan pembahasan suatu surat yang menjadi objek pencarian.
b. Memperhatikan uraian ayat-ayat yang sesuai dengan tujuan yang dibahas dalam surat.
c. Menentukan tingkatan uraian-uraian itu apakah ada hubungannya atau tidak.
d. Dalam mengambil keputusan,hendaknya memperhatikan ungkapan-ungkspan dengan benar dan tidak berlebihan.
Macam-macam munasabah :
1. Munasabah antar surat dengan surat sebelumnya: berfungsi sebagai menyempurnakan surat    sebelumnya.
2. Munasabah antara nama surat dan tujuan turunya.
3. Munasabah antar bagian suatu ayat.
4. Munasabah antar ayat yang letaknya berdampingan.
5. Munasabah antara suatu kelompok ayat dengan kelompok ayat disampingnya.
6. Munasabah antara fashilah (pemisah)dan isi ayat.
7. Munasabah antara awal surat dengan akhir surat yang sama.
8. Munasabah antara penutup suatu surat dengan awal surat berikutnya.
B. Dasar pemikiran Munasabah
Sebagaimana kita ketahui, bahwa sejarah munculnya kajian tentang munasabah tidak terjadi pada masa Rasulullah, melainkan setelah berlalu sekitar tiga atau empat abad setelah masa beliau. Hal ini berarti, bahwa kajian ini bersifat taufiqi (pendapat para ulama). Karena itu, keberadaannya tetap sebagai hasil pemikiran manusia (para ahli ‘Ulumul-Quran), yang bersifat relatif, mengandung kemungkinan benar dan kemungkinan salah. Sama halnya dengan hasil pemikiran manusia pada umumnya, yang bersifat relatif (Zhanniy).
Sungguhpun keberadaannya mengandung nilai kebenaran yang relatif, namun dasar pemikiran tentang adanya munasabah dalam Alquran ini berpijak pada prinsip yang bersifat absolut. Yaitu suatu prinsip, bahwa tartib (susunan) ayat-ayat Alquran, sebagaimana kita lihat sekarang adalah bersifat Tauqifi, yakni suatu susunan yang disampaikan oleh Rasulullah berdasarkan petunjuk dari Allah (Wahyu), bukan susunan manusia.
Atas dasar pemikiran inilah, maka sesuatu yang disusun oleh Dzat Yang Maha Agung tentunya berupa susunan yang sangat teliti dan mengandung nilai-nilai filosofis (hikmah) yang sangat tinggi pula. Oleh sebab itu, secara sistematis, tentulah dalam susunan ayat-ayat Alquran terdapat korelasi, keterkaitan makna (munasabah) antara suatu ayat dengan ayat sebelumnya atau ayat sesudahnya. Karena itu pula, sebagian ulama menamakan Ilmu Munasabah ini dengan علم أســرار ترتيب الآيات و السور فى القرآن الكريم  (Ilmu tentang rahasia/hikmah susunan ayat-ayat dan surat-surat dalam Alquranul-Kariem).
Berbeda dengan susunan ayat-ayat dalam setiap surat yang oleh para ulama disepakati sebagai susunan yang bersifat tauqifi, maka susunan surat-surat dalam Alquran masih diperselisihkan oleh para ulama, apakah bersifat taqifi atau tafiqi. Bagi kalangan ulama yang beranggapan bahwa susunan surat-surat dalam Alquran bersifat tauqifi, maka munasabah antar surat tidak mesti ada. Sedangkan bagi ulama yang berpendapat susunan surat-surat Alquran bersifat tauqifi, maka munasabah antar surat mesti ada.
C. Relevansi Munasabah dengan tafsir
Seperti sudah di bahas sebelumnya Munasabah merupakan satu disiplin ilmu yg membicarakan tentang pertautan antara ayat-ayat Al Qur’an atau antara surah-surahnya berdasarkan penyusunannya dalam mushaf. Dalam proses memahami isi kandungan Al Qur’an munasabah jarang sekali dikatakan sebagai salah satu kaidah penafsiran. Ia kurang populer di kalangan para Mufasir karena di kategorikan sebagai ilmu yang sukar didalami dan dipahami. Lebih-lebih lagi apabila terdapat alternative lain yang dianggap lebih mudah dan senang di pelajari. Ini mengakibatkan penguasaan terhadapnya semakin di abaikan.
Penguasaan seseorang dalam munasabah akan membantu mengetahui mutu dan tingkat kebalagahan al-Qur’an serta konteks kalimatnya antara satu dengan yang lain. Munasabah dapat memudahkan orang dalam memahami makna ayat atau surat al-Qur’an secara utuh tanpa adanya penafsiran yang sepenggal-sepenggal terhadap  ayat ayat al-Qur’an yang tentu saja dapat mengakibatkan penyimpangan dan kekeliruan dalam penafsiran.
Akan tetapi suatu hal ynang penting bagi ummat Islam adanya upaya untuk menafsirkan ulang teks al-Qur’an yang telah dilakukan oleh orientalis-orientalis barat yang tentu mereka menafsirkan bukan atas dasar keimanan , melainkan berdasarkan akal dan sisi historis sebuah teks ayat. Yang seharusnya ummat Islam meyakini al-Qur’an adalah merupakan Wahyu Tuhan yang turun melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, bukan merupakan teks hasil karya manusia yang bias secara serampangan di tafsirkan dengan dalih lebih ilmiah, tanpa memperdulikan metode penafsiran yang telah disepakati oleh kaum muslimin dari berbagai generasi.
BAB III
KESIMPULAN

Al-Qur’an merupakan kalamullah yang diturunkan sebagai sumber petunjuk manusia (hudaa linnaas) yang berfungsi menghubungkan dirinya dengan Allah dalam ubudiyah dan sesama makhluk dalam mu’amalah (habluminallah dan habluminannaas) berisikan tentang tauhid, hokum-hukum, mu’amalah, ibadah, dan lain sebagainya.
Kewajiban bagi setiad invidu yang mengaku dirinya beragama islam untuk memahami dan menghayati isi kandungan al-Qur’an untuk dalam proses selajutnya adalah pengamalan yang menyeluruh dalam segala aspek kehidupan. Qiro’ah Al Qur’an sebagai tata cara mengucapkan lafal kalimah Al Qur’an yang baik dan benar. Setiap Qiro’ah di nisbatkan kepada imamnya masing-masing agar mempermudah dalam pembacaan Al Qur’an di setiap indifidu. Sedangkan Munasabah adalah sebuah metodelogi dari salah satu upaya memahami al-qur’an dari sisi keterkaitan antar ayat maupun surat itu sendiri, baik dari sifat maupun konteksnya, tanpa terlepas dari kaidah kaidah yang di tetapkan para ulama islam dalam menafsirkan al-Qur’an.
Jika sebagian orang tidak dapat memahami pesan-pesan yang tersembunyi dalam al-Qur’an, sedangkan orang lain dapat memahaminya, ini merupakan rahasia lain yang diciptakan oleh Allah. Orang-orang yang tidak mengkaji rahasia-rahasia yang diwahyukan dalam al-Qur’an hidup dalam keadaan menderita dan berada dalam kesulitan. Ironisnya, mereka tidak pernah mengetahui penyebab penderitaan mereka. Dalam pada itu, orang-orang yang mempelajari rahasia-rahasia dalam al-Qur’an menjalani kehidupannya dengan mudah dan gembira.
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Wahid Ramli.Drs, Ulumul Qur’an, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002
Al-Qathan, Manna Khalil, Studi Ilmu Qur’an, Jakarta:  pustaka Islamiyah, 1998.
Badr al-Din al-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûm al-Qur’an, Beirut : Dar al-Ma’rifah li al-Tiba’ah wa al-Nasyr, 1972.
Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas : Tentang Transformasi Intelektual, Ahsin Mohammad (penterjemah), Bandung : Penerbit Pustaka, 1995.
Hasbi, Muhammad, Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, Semarang: Pustaka rizki Putra, 2002.
Imad al-Din Abu al-Fida’ Islamil Ib Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Adzim, Beirut : Dar al-Fikr, 1966.
Jalal al-Din al-Suyuti, al-Itqan fi al-Ulum al-Qur’an, Damaskus : Dar al-Fikr, 1979, Juz I
Manna’ al-Qattan, Mabahits fi Ulum al-Qur’an, Riyadh : Mansyurat al-Ashr al-Hadits

Post a Comment